Sabtu, 16 Januari 2021

Update Gempa Sulbar: 53 Orang Meninggal Dunia, 637 Mengalami Luka

Kondisi salah satu gedung di Mamuju yang rata dengan tanah akibat gempa, 14-15 Januari kemarin. (Foto: Istimewa/masalembo.com)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Sulawesi Barat bertambah. Hingga pukul 11.30 Wita, Minggu 17 Januari pagi ini, sebanyak 53 orang dilaporkan meninggal dunia, ratusan orang mengalami luka dan ribuan rumah maupun gedung mengalami kerusakan.

"Saat ini meninggal dunia 53 orang. Dari Kabupaten Mamuju 43 orang kemudian Majene 10 orang," kata Asisten I Bidang Pemerintahan Pemprov Sulbar HM Natsir, Minggu pagi.

Selain korban meninggal setidaknya 637 orang dilaporkan mengalami luka akibat gempa yang mengguncang Sulbar 14-15 Januari kemarin. Sebanyak 186 orang diantaranya mengalami luka berat dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit baik di Mamuju, Makassar dan juga Majene.

Terkait kerusakan akibat gempa, HM Natsir mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendataan. Namun diperkirakan ribuan rumah, gedung dan fasilitas pemerintah rusak berat hingga rusak ringan akibat gempa berkuatan 5,9 dan 62 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Barat.

BMKG Keluarkan Himbauan

Selain korban jiwa, korban luka dan kerusakan rumah-rumah warga di Sulawesi Barat, hingga saat ini ribuan orang masih memadati tempat-tempat pengungsian.

Warga di dua kabupaten, Mamuju dan Majene saat ini masih bertahan di tempat-tempat ketinggian dan daerah terbuka dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Mereka masih kuatir akan terjadinya gempa susulan dan potensi gelombang tsunami.

Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Majene Sulbar mengeluarkan himbauan agar masyarakat sekitar pusat gempa tetap tenang dan waspada. BMKG menyebut potensi gempa susulan masih akan terus terjadi seperti lazimnya pasca gempa kuat.

"Untuk itu masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan masih terjadinya gempa susulan yang kekuatannya signifikan," demikian kutipan himbauan dari Stasiun BMKG Majene.

Selain itu, BMKG mengingatkan warga agar menjauhi gedung dan rumah yang sudah retak atau rusak, karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh.

Masyarakat juga diminta perlu waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan dapat memicu longsor dan runtuhan batu, kemudian warga yang bermukim di wilayah pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak percaya dengan berita bohong (hoax) mengenai prediksi dan ramalan gempa yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi gelombang tsunami. (Har/Red)









from MASALEMBO https://ift.tt/3sAL5iu
via gqrds

Jumat, 27 November 2020

Dubes Indonesia untuk Korea Selatan: ASEAN Partner Terbesar Dalam Waktu Dekat

Dubes Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi. (Foto: Rmol Network untuk Masalembo)


JAKARTA, MASALEMBO.COM -  Asia Tenggara dan negara-negara anggota ASEAN memiliki arti penting bagi Republik Korea atau Korea Selatan. Hubungan Korea Selatan dengan kawasan ini dimulai pertama kali melalui ASEAN-ROK Partnership Dialogue yang diselenggarakan November 1989. 

Kualitas hubungan itu meningkat dari tahun ke tahun dan semakin signifikan setelah dalam kunjungan ke Jakarta di bulan November 2017 Presiden Moon Jaein mengumumkan kebijakan baru yang diberi nama New Southern Policy (NSP). 

Dengan kebijakan ini, Korea Selatan ingin meningkatkan kualitas hubungannya dengan India dan Asia Tenggara sehingga memiliki kualitas yang sama seperti hubungan Korea Selatan dengan mitra tradisional mereka yakni Republik Rakyat China, Jepang, Amerika Serikat, dan Federasi Rusia. 

Demikian antara lain dikatakan Kepala Misi Korea Selatan untuk ASEAN, Dutabesar Lim Sungnam, ketika memberikan sambutan dalam webinar internasional bertema “ASEAN-Korea Cooperation Upgrade, Focusing on the New Southern Policy” yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Politik RMOL, pada Kamis (26/11).

Selain dirinya, sambutan juga diberikan oleh Dutabesar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi, yang berbicara dari Seoul, dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Amany Lubis.

“Indonesia selalu menjadi panggung utama (center stage) NSP. Jakarta, dimana Sekretariat ASEAN berada, merupakan Ibukota ASEAN. Bukan sebuah kebetulan, Presiden Moon Jaein mendeklarasikan NSP di Jakarta tiga tahun lalu,” ujarnya.

Dia menambahkan, NSP berhasil meletakkan dasar yang lebih kokoh untuk kemitraan ASEAN dan Korea Selatan.

Sebagai contoh, tahun lalu volume perdagangan ASEAN dan Korea Selatan tercatat lebih dari 150 miliar dolar AS. Korea Selatan menjadi partner dagang terbesar kelima bagi ASEAN, sementara ASEAN adalah parner dagang terbesar kedua bagi Korea Selatan. 

Pada bagian lain, Dubes Lim Sungnam  juga mengatakan, November adalah bulan spesial bagi Korea Selatan dan ASEAN. Keputusan-keputusan penting terkait hubungan kedua belah pihak kerap dilakukan di bulan November, termasuk ASEAN-ROK Commemorative Summit yang berlangsung di Busan tahun lalu. 

Sementara pekan lalu, dalam ASEAN-ROK Summit ke-21, Presiden Moon Jaein mengumumkan NSP Plus yang fokus pada tujuh bidang.  Enam di antaranya adalah pengembangan SDM, pertukaran kebudayaan, perdagangan dan investasi, pembangunan kawasan pedesaan dan perkotaan, industri masa depan, dan keamanan non-tradisional. 

Serta satu bidang lainnya adalah pelayanan kesehatan terkait dengan penyebaran pandemi Covid-19 yang harus dihadapi bersama masyarakat dunia.

Dubes Lim Sungnam mengutip satu pepatah dalam bahasa Indonesia yang berbunyi, “berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing” untuk menggambarkan arti penting kerjasama kedua kawasan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Partner Terbesar Dalam Waktu Dekat

Dubes Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi, dalam sambutannya menyampaikan optimisme bahwa dalam waktu dekat ASEAN dapat menjadi partner terbesar Korea Selatan. 

Setidaknya, keyakinan dan optimismenya itu didukung oleh tiga unsur yang saling melengkapi (compatibility) antara Korea Selatan dan ASEAN. 

“Pertama, kompatibilitas di bidang sumber daya. ASEAN dan Korea Selatan memiliki semua sumber yang dibutuhkan untuk membangun rantai nilai (chain values) kita sendiri. Dari sumber daya alam, sumber daya manusia, sampai kapital dan teknologi,” ujarnya. 

Kedua, adalah kompatibilitas demografi. Kedua kawasan, sebutnya, berada pada waktu yang tepat untuk menciptakan solusi atas isu aging society di Korea Selatan, dan di saat bersamaan isu penciptaan lapangan kerja untuk anak-anak muda ASEAN.

Sementara kesamaan ketiga, masih kata Dubes Umar Hadi, adalah visi transformasi yang dimiliki pemimpin-pemimpin ASEAN dan Korea Selatan. 

“Saya yakin tahun 2020 akan dikenang tidak hanya karena pandemi global Covid-19 dan penderitaan yang dibawanya untuk banyak orang, tetapi yang lebih penting (tahun 2020) akan dikenang sebagai fajar bagi transofrmasi besar,” katanya lagi. 

Dubes Umar Hadi mengingatkan, bahwa faktor pendorong utama ke arah transformasi besar ini adalah inovasi. Hubungan ASEAN dan Korea Selatan yang lebih dekat, sambungnya, akan menciptakan kekuatan baru inovasi dan teknologi. 

Memperkuat Kerjasama di Era Pandemi

Adapun Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Amany Lubis, dalam sambutannya menekankan arti penting kerjasama kawasan di era pandemi Covid-19.

Selain itu, ASEAN dan Korea Selatan juga perlu mengedepankan pendekatan keamanan dan perdamaian di tengah ketegangan yang masih kerap terjadi di perairan Laut China Selatan.

“Kami siap menjadi bagian dari kerjasama ini. Kita memiliki kepentingan bersama dalam mengembangkan kerjasama yang lebih kuat karena pandemi membutuhkan kemitraan regional yang semakin kuat,” ujarnya.

“ASEAN dan Korea Selatan tertantang untuk menjalin kerjasama menghadapi ketegangan antara China dan Amerika,” sambungnya sambil menambahkan, perang dagang di antara kedua raksasa dunia itu juga berpotensi menciptakan krisis ekonomi.

Webinar internasional yang berlangsung selama hampir enam jam itu dibagi dalam tiga tema besar, “Progress and Outcome of the NSP”,  “ASEAN’s Expectation and New Projects
from the NSP Under the US-China Conflict and Covid-19’, dan “Advises to Upgrade the Cooperation in the NSP”.

Webinar diikuti tidak kurang dari 250 peserta yang banyak di antaranya adalah mahasiswa jurusan hubungan internasional dari sejumlah universitas seperti Universitas Padjadjaran, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Jenderal Achmad Yani. 

Pembicara-pembicara yang hadir adalah Direktur Urusan Asia Timur dan Pasifik Kemlu RI Santo Darmosumarto, Minister Counselor Misi Korea Selatan untuk ASEAN Yoo Sanguk, Rektor Unjani Prof Hikmahanto Juwana, dosen President University Teuku Rezasyah, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ali An Sungeun dan Badrus Sholeh, peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Andrew W. Mantong, dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nanto Sriyanto. (Rls)


from MASALEMBO https://ift.tt/2V7edhz
via gqrds

Selasa, 24 November 2020

Novel Baswedan Pimpin Penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo


Penyidik KPK Novel Baswedan

JAKARTA, MASALEMBO.COM - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)Novel Baswedan disebut memimpin penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo, Rabu (25/11/2020).

Edhy ditangkap beserta istri dan beberapa rombongan lain saat mereka baru tiba di Indonesia dari Amerika Serikat sekitar pukul 01.23 WIB dini hari tadi. Tim KPK langsung membawa Edhy ke kantor lembaga anti-rasuah itu.

"Sesampainya di KPK (Edhy) langsung diperiksa. Di dalam Gedung KPK sendiri terlihat ada Novel Baswedan penyidik senior KPK, salah satu yang memimpin kegiatan itu," kata seorang sumber internal KPK menjelaskan penangkapan itu, dilansir dari CNNIndonesia.com.

Wartawan telah berusaha menghubungi Novel Baswedan terkait penangkapan tersebut. Namun yang bersangkutan belum menjawab panggilan telepon dan pesan hingga berita ini diterbitkan.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango telah membenarkan penangkapan terhadap Edhy Prabowo.

"Benar kita telah mengamankan sejumlah orang pada malam dan dinihari tadi," kata Nawawi Rabu (25/11).

Sebelum ditangkap, Edhy melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Dia sempat menyapa 201 nelayan Indonesia di Honolulu, Hawaii.

Politikus Gerindra itu menyoroti aspirasi nelayan Indonesia, yang bekerja di berbagai kapal penangkap ikan berbendera Amerika Serikat dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke negara adidaya tersebut.

Sementara itu, DPP Gerindra masih mencari tahu dan menunggu kabar resmi atas penangkapan Edhy Prabowo oleh KPK.

"Saya akan cek dulu," ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Bidang Hukum dan Advokasi, Habiburokhman, Rabu pagi.

"Pagi ini kami baru mendengar kabar tersebut, oleh karena itu kita tunggu KPK," ujar Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, secara terpisah.

Penangkapan Edhy diduga terkait dengan kasus suap benih lobster alias benur. Ihwal benur ini pernah menjadi polemik antara Edhy dengan menteri pendahulunya, Susi Pudjiastuti.

Larangan benur pernah diterbitkan pada era Susi. Saat itu Susi kerap menangkap pengekspor benur ilegal. (*/CNNIndonesia.com)


from MASALEMBO https://ift.tt/3m3BcpR
via gqrds

Jumat, 13 November 2020

Wartawan Majene Sesalkan Pembagian Id Card Peliputan Debat Publik Pilkada

R Fajar Soenoe (ist)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Seorang wartawan yang juga pemimpin redaksi media online di Sulbar menyesalkan penyelenggara Pilkada di Kabupaten Majene. Pasalnya, Pemred Mamujupos.com, R Fajar Soenoe itu tak kebagian Id Card peliputan acara debat publik Pilkada Majene yang akan digelar KPU, Sabtu 14 Nopember besok.

Saat hendak mengambil Id Card di kantor KPU Majene Jl Ahmad Yani Passarang Selatan Kecamatan Banggae, Jum'at (13/11/2020) oleh pihak KPU menyebut bahwa id card sudah terbagi habis. 

"Saya sangat menyayangkan pihak  KPU yang secara sembarangan membagi id card kepada oknum yang bukan wartawan," sebut Fajar Soenoe, mengaku mengetahui banyak oknum bukan pers yang turut ambil Id Card. 

Dikatakan, sejak tahapan Pilkada Kabupaten Majene dimulai, dirinya sudah mendapati banyak pengguna Id Card wartawan liputan bukan dari insan pers atau pekerja media. "Apa dasar KPU memberikan kepada oknum yang bukan wartawan," sesal Fajar. 

Menurut dia, sejak awal KPU membagi Id Card wartawan pada setiap tahapan sudah berindikasi ada kejanggalan. Seharusnya, kata dia, di Kabupaten Majene sangat bisa diidentifikasi siapa saja wartawan yang betul-betul aktif meliput. 

"Bukan hanya datang pada acara sekedar ramai-ramai dan tidak ada berita," sebut Fajar, pemilik kartu Uji Kompetensi Wartawan Utama ini.

Lebih jauh dikatakan Fajar, untuk mengetahui jumlah wartawan peliput kegiatan KPU bisa dilihat dari hasil berita yang termuat pada media, baik itu di media cetak, online dan elektronik. 

"Id card yang keluar tidak berbanding lurus dengan jumlah media yang memberitakan kegiatan. Kita bisa melakukan inventarisir, mana media yang betul-betul hadir untuk liputan dan mana hanya oknum," kata mantan jurnalis Berita Kota Makassar ini.

Malah lanjut Fajar, bagi oknum yang mengatasnamakan pers dapat dikenai undang-undang yang berlaku. "Itu memalsukan identitas diri ada pasalnya di dalam KUHP," ungkapnya.

Ketua KPU Majene, Arsalin Aras dikonfirmasi via telepon Jum'at malam mengatakan, hingga Jum'at pagi sebelum dirinya berangkat ke Mamuju untuk urusan dinas, Id Card wartawan masih banyak di Kantor KPU. 

"Tadi pagi sebelum saya berangkat ke Mamuju, masih banyak di kantor. Coba tanyakan ke teman-teman wartawan. Katanya sudah diambil semua," ucap Arsalin Aras di balik telepon. 

Sementara itu sumber lain menyebutkan, habisnya Id Card wartawan untuk liputan khusus debat publik Paslon Bupati dan Wakil Bupati Majene di LPMP Sulbar pada Sabtu 14 Nopember 2020 besok sudah habis terbagi. Hal itu mengherankan sebab jumlah wartawan aktif di Majene hanya bisa dihitung jari. (ar/red)


from MASALEMBO https://ift.tt/36wrw0u
via gqrds

Rabu, 11 November 2020

Sertijab dan Pisah Sambut Kadis Transmigrasi Sulbar


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Dinas Transmigrasi Sulbar menggelar acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan pisah sambut Kepala Dinas Transmigrasi Sulbar, Selasa (28/7/2020).

Dalam acara yang dikemas secara sederhana tersebut, jabatan Kepala Dinas Transmigrasi diserahkan terimakan dari pejabat lama H. Herdin Ismail kepada pejabat baru H. Ibrahim, dan selanjutnya dilakukan penandatanganan berita acara serah terima jabatan.

Pejabat lama Kepala Dinas Transmigrasi Sulbar, H. Herdin Ismail mengatakan, mutasi terhadap pejabat merupakan suatu hal yang lazim terjadi dalam dunia birokrasi.

“Mutasi jabatan memang biasa terjadi, jadi kita sebagai seorang pejabat harus selalu siap dimanapun ditempatkan,” kata Herdin Ismail, Selasa (28/7/2020).

Ia menambahkan selaku pejabat lama dirinya menilai OPD yang pernah dipimpinnya tersebut, masih perlu arahan.

“Staf yang ada di sini welcome semua, namun masih perlu bimbingan,” kata Herdin.

Herdin berpesan kepada penggantinya, untuk tetap saling beriringan dalam bekerja.

Herdin juga berpesan kepada seluruh stafnya untuk belajar melindungi, menyayangi pimpinan, jangan dirusak. “Jaga pimpinan kita maka Tuhan akan menjaga kita,” ucapnya.

Herdin mengatakan, selama dua tahun dua bulan, ia dipercayakan menjadi kadis transmigrasi, banyak suka dan duka dilalui bersama. Namun kata Herdin, hidup harus melangkah, tidak hanya berhenti disini karena tugas berikutnya masih ada dan harus dilaksanakan walau dalam lingkungan yang baru.

“Dimana pun kita ditempatkan harus pandai membawa diri,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Transmigrasi yang baru H. Ibrahim mengungkapkan serah terima jabatan bukan hanya sekedar kegiatan seremonil belaka, namun memiliki makna membangun kebersamaan dalam suatu organisasi.


“Kita hadir di sini bukan hanya melakukan serah terima jabatan saja, tetapi bagaimana memperlihatkan, bahwa kebersamaan itu perlu ada dalam membangun suatu organisasi. Tidak ada organisasi yang kuat jika berjalan sendir-sendiri,” ungkap Ibrahim.

Secara pribadi, H. Ibrahim sangat mengapresiasi sepak terjang dari pejabat lama dalam berkarir di dunia birokrasi selama ini.

“Pak H. Herdin ini kakanda saya, sahabat saya. Kita perlu tahu beliau ini telah lama berkarir dan melintang di sejumlah jabatan, sebelum menjabat Kepala Dinas Transmigrasi,” akunya.

Melalui kesempatan itu, Ibrahim menyatakan, akan melanjutkan program-program yang telah dilaksanakan pejabat lama, termasuk juga yang sudah direncanakan, namun belum terlaksana.

“Apa yang ditanamkan kakanda saya disini yang sudah bagus, kita akan lanjutkan, termasuk yang sudah direncanakan namun belum dilaksanakan karena memang ada tahapannya,” tuturnya.

Untuk memujudkan hal tersebut, Ibrahim berharap, dukungan dan dorongan dari seluruh jajaran Dinas Transmigrasi, tanpa terkecuali.

Selain itu, kata Ibrahim, sebagai pejabat baru tentu juga akan selalu meminta arahan dan bimbingan dari pejabat lama.

“Tentu semuanya ini tidak akan terlepas dari arahan pak Herdin, kami minta tetap dipantau dan jangan dilepas, sebab kami belum punya pengalaman tentang transmigrasi ini dan kalau ada hal-hal diluar kemampuan kami tolong diarahkan,” pintanya.

Sementara itu, mutasi eselon II yang dilaksanakan pada Senin 27 Juli 2020, H. Herdin Ismail diposisikan sebagai Kepala Badan Kesbangpol Sulbar.

Sebelumnya itu pula, H. Herdin Ismail telah menyerahkan kunci mobil dinas dan lainnya kepada pejabat baru. (dir/Adv)



from MASALEMBO https://ift.tt/2IsJ2Kq
via gqrds

Sabtu, 07 November 2020

Dewan Pers Hanya Tangani Laporan Bagi Media Yang Terdaftar, Ini Tanggapan Sekjen JMSI


GORONTALO, MASALEMBO.COM - Ada korelasi positif antara ketegangan politik dan penyebaran kabar bohong atau hoaks. Pemilihan umum, termasuk pemilihan kepala daerah, menjadi momen politik yang paling sering dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk memproduksi hoaks demi menyudutkan lawan politik. 

Begitu antara lain diingatkan praktisi media Josep Adi Prasetyo ketika berbicara pada kegiatan “Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia” atau “Ngopi Coi” dengan tema “Media, Internet dan Hoaks” yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo, Jumat kemarin (6/11/2020). 

Kegiatan yang dibuka Walikota Gorontalo Marten Taha itu dihadiri puluhan wartawan, humas berbagai instansi, ayahanda atau kepala desa dan anggota Bintara Pembina Desa atau Babinsa.

Mantan Ketua Dewan Pers yang biasa disapa Stanley ini mengatakan sejauh ini hoaks lebih banyak beredar di media sosial seperti grup WhatsApp, Instagram, Facebook dan Youtube.

Menurut Stanley yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM, di Indonesia  jumlah handphone yang digunakan sudah lebih dari tiga ratus juta unit atau lebih banyak dari jumlah penduduk. Ini berarti satu orang  memiliki lebih dari satu handphone.

Dia menambahkan, kalangan masyarakat  bawah adalah pihak yang paling banyak menggunakan handphone. 

Karena pemahaman yang kurang, masyarakat kalangan bawah tidak lagi memeriksa  kebenaran informasi yang mereka terima, dan biasanya langsung menyebarkannya. Mereka inilah yang berkontribusi besar dalam menyebarkan hoaks.

Sedangkan hoaks bila sudah menyangkut menyerang lawan politik pasti dibuat kelompok masyarakat “atas” atau mereka yang memiliki pengetahuan luas.

Itu sebabnya Stenley mengingatkan wartawan sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas tidak ikut-ikutan menyebarkan hoaks. Cara terbaik menghindarkan hal ini adalah mematuhi hukum besi, yakni konfirmasi menjaga keberimbangan berita.

“Bila ada media yag dilaporkan (karena diduga menyebarkan hoaks) Dewan Pers hanya akan memeriksa media yang sudah terdaftar di Dewan Pers. Bila tidak terdaftar, Dewan Pers menyerahkannya pada aparat hukum,” ujar Stanley.

JMSI Membantu Dewan Pers

Sekretaris Jenderal Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Mahmud Marhaba, secara terpisah mengatakan dirinya sangat mendukung penyataan Stanley itu.

Menurutnya, apa yang disampaikan Stanley sejalan dengan maksud pendirian JMSI yang merupakan wadah perkumpulan perusahan pers di tanah air. JMSI memiliki visi menciptakan ekosistem pers nasional yang sehat, serta berupaya membantu perusahan pers di berbagai daerah menjadi perusahaan pers yang profesional dan terdaftar di Dewan Pers.

“Ada lebih dari 50 ribu media siber tersebar di tanah air. Tidak mungkin bisa ditangani oleh Dewan Pers sendiri. JMSI hadir untuk membantu perusahan pers terdaftar di Dewan Pers sehingga kerja Dewan Pers bisa terbantu oleh JMSI,” ujar Mahmud, Sabtu (7/11/2020).

JMSI secara resmi mendaftarkan diri menjadi konstituen Dewan Pers tanggal 26 Oktober lalu. Kini ratusan media siber sudah menyatakan diri bergabung menjadi anggota JMSI.

“Media yang menjadi anggota JMSI secara otomatis kami daftarkan sebagai anggota di Dewan Pers. Kita akan mengawal setiap anggota JMSI untuk terdaftar secara adminstrasi dan faktual di Dewan Pers,” tegas Mahmud yang dimintai keterangan melalui sambungan telepon usai kegiatan BNPT dan FKPT di Gorontalo. (*/red)


from MASALEMBO https://ift.tt/2U0tjFd
via gqrds

Kamis, 29 Oktober 2020

Kelahiran Sang Nabi


*Dudung Nurullah Koswara


PENULIS ternama Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad” mengisahkan “Maulid Nabi”. Diantaranya Ia menyatakan bahwa sebagian besar ahli sepakat kelahiran Muhammad adalah pada Tahun Gajah, 570 Masehi. Muhammad dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Tahun, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad banyak versi, itulah sejarah.

Kelahiran atau maulid Nabi Muhammad adalah sebuah momentum yang paling penting dalam sejarah umat Islam. Mengapa sangat penting? Karena banyak makna yang bisa kita petik sejak kelahiran bayi Muhammad yang kemudian menjadi Nabi akhir zaman, nabi penutup. Terutama bagi kaum muslimin maulid nabi adalah penting diperingati.

Mari kita lihat sejumlah fakta historis kelahiran Muhammad. Pertama saat Ia lahir oleh kakeknya tidak diberi nama “mainstream” sebagaimana tradisi memberi nama ada embel-embel leluhur. Tentunya leluhur Quraisy yang menunjukan kemuliaan dan kebesaran. Nama Muhammad adalah nama yang tidak dimiliki nama bayi yang lainnya. Unik, khas, beda dan nama yang bermakna kebaruan. Ada kebaruan dalam nama bayi Muhammad. Makna yang dapat kita petik, “Jangan ikut kebiasaan, ciptakan yang baru”.

Kedua, Muhammad adalah bayi yang lahir dari keluarga bangsawan, bukan keluarga miskin. Saat lahir di hari ke tujuh diadakan acara cukup mewah yakni menyembelih unta dan acara makan-makan mengundang masyarakat Quraisy. Sebagai anak bangsawan Muhammad pada hari kedelapan dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah Ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Tradisi menyusukan para bangsawan Quraisy.

Ketiga, kisah sejarah mengatakan sosok Halimah menjadikan Muhammad sebagai anak susuannya. Apa yang terjadi? Sejak diambilnya anak itu (Muhammad) Ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Itulah bawaan keberkahan, keajaiban dan keunikan dari bayi yang kelak akan menjadi Nabi terbesar. Sejak kecil sudah “ajaib”.

Kempat, keyatiman Muhammad sungguh sangat memilukan. Sebuah rekaman kepedihan saat usia butuh kasih sayang. Ia secara batin sangat menderita. Saat Ia dibawa oleh Ibunya (Aminah) ke Madinah melihat rumah dan makam Ayah tercinta yang sudah tiada, tentu Muhammad menyadari dirinya adalah yatim. Lebih menyedihkan lagi dalam perjalanan pulang Ibu tercinta meninggal di perjalanan. Ia kini hanya bersama seorang budak (Umm Aiman) dan kembali ke Mekah.

Husain Haekal menuliskan kisah sedih Muhammad saat anak-anak. “Ia pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa Ia masih dalam kandungan. Kini Ia melihat sendiri dihadapannya, Ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti Ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu”.

Sungguh sa’at Saya menulis tulisan yang berjudul “Kelahiran Sang Nabi” air mata Saya pun meleleh. Bagaimana tidak, seorang anak kecil hidup bersama orang lain di kampung. Ia disusukan bukan oleh Ibunya. Ia pun ditinggal oleh Bapaknya. Ia ditinggal oleh Ibunya. Ia pun ditinggal oleh Kakek yang sangat mencintainya. Begitu berat beban seorang anak Muhammad. Derita ini pasti menjadi “long term memory” yang luar biasa bagi dirinya.

Kelima, Muhammad muda sudah “dicurigai” akan menjadi tokoh besar perubahan peradaban. Ini jelas terungkap dalam sejarah saat bertemu rahib Bahira. Bahira itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Bahkan saat perjanan ke Syam Ia mencoba memberi saran agar anak bernama Muhammd, “Jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia”.

Keenam, Muhammad muda usia 12 tahun, sangat literatif. Saat Ia ke negeri Syam. Ia mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia. Kalau kita baca dalam Al Quran terdapatat ayat “Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Rum [30]: 2-4).

Ketujuh, Muhammad muda belajar pada penyair Yahudi dan Nasrani. Dalam bukunya Husain Haikal menuliskan, “Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega”.

Kedelapan, bangga sebagai penggembala kambing saat muda. Ia mengatakan “Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.”Dan katanya lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” Menggembala kambing adalah sebuah kehormatan baginya. Pekerjaan menggembala kambing sangat membanggakan bagi sosok Muhammad muda. Saat menggembala kambing ini juga Muhammad muda banyak merefleksi, merenung dan melihat kaum Quraisy khusunya yang terlihat jahiliyah. Ia tidak larut dalam pesta-pesta mabuk-makukan kebiasaan kaum Quraisy. Ia “terkarantina” dalam menggembala kambing.
Kesembilan, terkait pernikaham Muhammad dengan Khadijah. Pepatah bijak mengatakan, “Hidup hebat dan teruji seorang manusia dimulai saat menikah”. Nah pepatah ini sangat korelatif. Muhammad menjadi seorang Nabi saat sudah menikah. Sekitar 15 tahun sesudah menikah Ia menjadi seorang Nabi. Khadijah adalah istri, teman belajar dan diskusi bahkan penguat mentalnya saat Ia ragu menghadapi sesuatu. Nabi Muhammad tidak poligami saat bersama Khadijah.

Maulid Nabi, kelahiran Nabi kita peringati setiap tahun. Semoga spiritnya tidak hanya muncul dan hanya menjadi wacana tahunan. Melainkan menjadi ruh, spirit dan motivasi harian bagi semua umat muslim. Terutama kejujuran dan semangat belajar serta berusaha merombak kultur yang jumud bergaya “paduan suara” pada leluhur atau atasan. Nabi Muhammad adalah pembawa perubahan. Kritis, kreatif, inovatif namun tetap tegas, bahkan sejumlah peperangan terjadi bersamanya demi sebuah perubahan. 

* Penulis Buku Narasi Spiritual
Sumber: koransinarpagijuara.com


from MASALEMBO https://ift.tt/3mEBlj5
via gqrds